cool hit counter

PDM Kabupaten Cirebon - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Cirebon
.: Home > Sejarah

Homepage

Sejarah


Tahun 1935 merupakan awal perkenalan Cirebon dengan pergerakan Muhammadiyah. Mulai tahun itu Kyai Toyib dari Kuningan mulai memperkenalkan Muhammadiyah di Cirebon. Rupanya perkenalan pertama ini mengundang kepenasaranan disamping simpati yang mendalam, terbukti selanjutnya perkumpulan itu menjelma menjadi sebuah pengajian rutin yang digelar sebulan sekali atas binaan dari Kyai Toyib bertempat di sebuah rumah yang terletak di Gang Syekh Magelung – Cirebon. Diantara yang selalu hadir dalam pengajian itu adalah Bapak Soeyali, H. Hoed, H. Soemardi, H. Yoesoef, H. Basoeki dan Bapak Bazar Ma’ruf. Beberapa orang diantara mereka adalah para pengusaha batik, sedangkan yang terakhir disebutkan yaitu Bazar  Ma’ruf adalah adik kandung Prof. Farid Ma’ruf, namun pada tahun 1939 beliau kembali ke Yogyakarta setelah selama kurang lebih 4 tahun merintis Muhammadiyah, bahkan dua tahun menjadi pengurus cabang Muhammadiyah Cirebon.

 

 

Muhammadiyah resmi berdiri di Cirebon sebagai cabang pada tahun 1937 dengan H. Basoeki sebagai ketuanya dibantu oleh Bazar Ma’ruf. Ketika berdiri, di Cirebon telah berkembang Al Irsyad dan Persatuan Islam yang keduanya dianggap sebagai organisasi yang memiliki kesamaan gerak dengan Muhammadiyah. Untuk menunjukan gerakannya, menjelang peresmian pengurus cabang digelar khitanan massal yang sebelumnya seluruh anak khitan itu diarak pawai. Sebagai pusat aktivitas pengurus cabang Muhammadiyah Cirebon saat itu berlokasi di  Pekarungan.

 

 

H. Basoeki menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Cirebon dari tahun 1937 – 1942, Setelah itu, sejak tahun 1942 jabatan ketua diserah-terimakan kepada H. Hoed yang juga memimpin selama kurang lebih 5 tahun mulai tahun 1942 – 1947.

 

 

Bermunculannya tokoh – tokoh baru dalam Muhammadiyah yang diantaranya adalah Djamal Dasoeki dan Arhatha, ternyata membawa dampak positif yang sangat besar. Diantaranya adalah munculnya gagasan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Bermodal dari sebuah madrasah sangat sederhana yang terletak di wilayah Syekh Magelung, kira  - kira bulan Januari 1945 atas prakarsa Bapak Arhata dan seluruh rekan seperjuangannya berdirilah secara resmi sebuah lembaga pendidikan menengah pertama yang diberi nama Wustho. Selama kurang lebih 2 tahun Wustho berjalan. Pada Tahun 1947 berubah nama menjadi Sekolah Menengah Islam atau lebih dikenal dengan nama SMI yang dipimpin H. Djamal Dasoeki. Menyusul pendirian SMI, pada tahun itu juga, kira – kira bulan Maret 1947 berdiri pula Sekolah Menengah Tinggi Islam  (SMTI), setingkat SMA sekarang

 

 

Masih pada periode ini, Muhammadiyah Cirebon mulai melebarkan sayap dengan mendirikan beberapa ranting yang meliputi Ranting Jamblang, Sumber, Sindanglaut, Ciledug dan Indramayu. Di Indramayu dipelopori  oleh Ahmad Dasoeki yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Cirebon yang di kemudian hari pernah menjabat sebagai Bupati Indramayu.

 

 

Kedua sekolah yang baru saja berdiri itu ternyata tidak dapat berumur panjang, kekacauan yang ditimbulkan oleh Agresi Belanda memaksa sekolah itu bubar sedangkan kegiatan belajar mengajar khususnya siswa SMI disulap dengan istilah kursus yang tempatnya selalu berpindah-pindah. Kira – kira satu tahun kursus – kursus itu berjalan, pada tahun 1948 dirintis kembali SMI dalam versi baru. Suasana yang masih belum mendukung menyebabkan keberadaan SMI tetap tertatih-tatih.

 

 

Pada perkembangan selanjutnya, setelah jatuh bangun berpindah dari satu tempat ke tempat lain SMI berubah menjadi SMP Muhammadiyah. Dari sinilah awal pertumbuhan lembaga pendidikan Muhammadiyah di Cirebon. Bermodal  kepercayan masyarakat terhadap SMP Muhammadiyah itu, sekitar tahun 1955 cabang Muhammadiyah Cirebon merintis pendirian SMA Muhammadiyah dengan lokasi di Jl. Tuparev.

 

 

Pembukaan SMA ini hampir bersamaan dengan pembukaan PGA Negeri karena PGA Negeri pada waktu itu menempati bangunan yang sama dengan SMA Muhammadiyah mengingat bahwa tanahnya milik Muhammadiyah sedangkan biaya pembangunannya  berasal dari pemerintah. Perkembangan selanjutnya, SMP Muhammadiyah selain berhasil melahirkan SMA, juga dapat membidani kelahiran SMP Muhammadiyah 2, SMK Muhammadiyah bahkan SMF dan SPK yang belum lama ini konfersi menjadi AKPER. Sedangkan SMF terus berkembang bahkan melahirkan Akademi Farmasi (AKFAR). Adapun lokasi yang dulu pernah dipakai SMI berlokasi di Jl Stasiun, sekarang ini dipergunakan untuk SD Muhammadiyah 3 Cirebon yang tanah dan bangunannya masih milik pemerintah.

 

 

Sekitar tahun 1966, cabang Muhammadiyah Cirebon sebenarnya pernah merintis mendirikan Universitas Muhammadiyah (Unimuh) Cirebon yang operasionalnya selain di Cirebon juga di Kuningan. Hanya saja karena ada kesalahan manajemen, universitas ini tidak berlanjut dan penyelesaian studi mahasiswanya kemudian dititipkan di Universitas Indonesia  dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pendirian Universitas di Cirebon kembali dirintis sejak tahun 1998 dan kemudian berwujud  pada tahun 2000.

 

 

Kerja keras para aktivis Muhammadiyah Cirebon terutama dalam bidang pendidikan  ternyata sampai saat ini tetap mendapat sambutan yang sangat bagus dari masyarakat. Hampir seluruh lembaga pendidikan yang dikelola tidak pernah kehilangan peminat. Dari tahun – ke tahun para siswanya senantiasa memenuhi kelas yang tersedia. Tidaklah mengherankan kalau dari lembaga pendidikan  ini hampir seluruh gerakan Persyarikatan senantiasa berjalan dengan dinamis. Apalagi hal ini ditunjang dengan sistem sentralisasi keuangan yang diterapkan oleh PD. Muhammadiyah Cirebon. Sebuah terobosan yang memerlukan kearifan, disamping keberanian untuk mengambil resiko. Hal ini sebagimana diungkapkan oleh E. Muksidi, sekretaris PD. Muhammadiyah Kab. & Kota Cirebon. Upaya ini dilakukan oleh Muhammadiyah Cirebon pada masa kepemimpinan  Zainal Masduki. Dengan sentralisasi keuangan ini anggaran  seluruh sekolah diketahui oleh induk persyarikatan yang dalam hal ini PD. Muhammadiyah. Sehingga dengan demikian, sekolah yang memiliki pendapatan kecil dapat tertutupi berbagai kebutuhannya melalui subsidi dari sekolah yang berkecukupan. Karena itu, seluruh sekolah setiap tahunnya senantiasa menyusun laporan disamping anggaran untuk tahun depan, dan semua itu pengesahannya ada di tangan Pimpinan Persyarikatan.

 

 

Sekalipun saat ini lembaga pendidikan Muhammadiyah di Cirebon nampak cukup berkembang, namun sebenarnya di awal pendirian terutama antara tahun 1947 – 1950 pernah juga mengalami masa – masa yang sangat sulit. Apa yang menimpa pada lembaga pendidikan juga tidak jauh berbeda nasibnya dengan yang menimpa kepada persyarikatan. Selama kurang lebih tiga tahun, sejak tahun 1947 – 1950 itu terutama masa – masa mempertahankan kemerdekaan akibat munculnya keinginan Belanda untuk berkuasa kembali di Indonesia.

 

Khawatir kevakuman ini akan berlanjut terus, maka Bapak Arhatha berusaha mengumpulkan para aktivis untuk membagkitkn kembali gerakan Muhammadiyah di Cirebon. Selama satu tahun Arhata memegang kendali pengurus cabang, setelah itu, periode 1951 s,d, 1952 tampuk pimpinan berada di tangan H.Ahmad Dasuki, untuk kemudian pada periode 1952-1953 diserahkan kepada H. Hasan. Mulai tahun 1953, tampuk pimpinan berada di pundak H. Djamal Dasoeki. Beliau adalah orang Yogyakarta alumnus Mu’alimien Yogyakarta yang pernah menjadi “Anak Panah Muhammadiyah” yang ditugaskan oleh almamaternya bersama sama dengan A.R. Fakhrudin ke Palembang. Sekembalinya dari Palembang, beliau kembali ditugaskan ke Cirebon, dan selanjutnya menetap di Cirebon. Di tangannya kepemimpinan Muhammadiyah berlanjut cukup lama dari tahun 1953 sampai tahun 1974. Pada masa kepemimpinannya Muhammadiyah Cirebon dipusatkan di Jl  Bahagia, baru pada masa kepemimpinan  Zainal Masduki Kantor PMD pindah ke Jl Tuparev No 70 Cirebon. Para Ketua Muhammadiyah di Cirebon sejak awal perintisannya sampai saat ini adalah : Periode 1937 – 1942 H. Basoeki,  kemudian dilanjutkan oleh H. Hoed (1942 –1947), dari tahun 1947 – 1950 Muhammadiyah Cirebon mengalami kevakuman. Sekitar tahun 1950 mulai dirintis dan dihidupkan kembali oleh Arhatha, kemudian H. Ahmad Dasuki  (1951 – 1952), H. Hasan (1952 – 1953), Djamal Dasuki (1953 – 1974), Zainal Masduki, BA (1974 – 1991), Periode 1990 – 1995 PDM Cirebon dipimpin oleh H. A. Rosyad Rais, setelah itu dipercayakan kepada H. Moh. Mahdlor (1995 – 2000), dan pada periode 2000- 2005 Muhammadiyah Cirebon dipercayakan kepada Drs. H. Ma’muri Ikhsani yang dibantu oleh Anggota PDM Cirebon lainnya yang terdiri dari K.H.Abdullah Rosyad Rais, Drs. Ahmad Affendi, Drs. Kosasih Natawijaya, H. Edi Baredi, H. Sudira, E. Muksidi, H. Fahmy Dahlan, Ratija Bratamanggala, H. Ma’mun El Amin, Bc.Hk., Prof. Dr. H. Muhaemin, MA,  Madi Rahman, Drs. H. Syamsudin NS, Apt. Dan pada periode 2005 - 2010 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Cirebon dipercayakan kepada Drs. Ahmad Effendi dan tahun 2010 - 2015 dipercayakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Cirebon kepada Drs. Ahmad Dahlan, M.Ag. yang dibantu oleh Anggota PDM Cirebon lainnya yang terdiri dari K.H. Herman Abdullah, Ahmad Hamdan, S.Ag., Isa Ansori, S.Pd., Karya, SH.I., Drs. H. Bardan Krisyantoro, Dirja Supriatna, S.Pd., Drs. H. Chafiduddin Z, Imam Syapi'i., Suherman, SH., Drs. Anas Makruf, H. R. Noor Zein, Chepi Riva'i.


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website